" Ingatlah bahwa setiap hari dalam sejarah kehidupan kita ditulis dengan tinta yang tak dapat terhapus lagi " (Thomas Carlyle)

Jumat, 28 September 2012

Kajian Budaya Jawa - Tokoh Punakawan

MI Nurul Hidayah Posted


Panakawan (diambil dari bahasa Jawa) atau punakawan KBBI adalah sebutan umum untuk para pengikut kesatria dalam khasanah kesusastraan Indonesia, terutama di Jawa. Pada umumnya para panakawan ditampilkan dalam pementasan wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek, ataupun wayang orang sebagai kelompok penebar humor untuk mencairkan suasana. Namun di samping itu, para panakawan juga berperan penting sebagai penasihat nonformal kesatria yang menjadi asuhan mereka.


Peran Punakawan

Istilah punakawan berasal dari kata pana yang bermakna "paham", dan kawan yang bermakna "teman". Maksudnya ialah, para panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebut.
Hal yang paling khas dari keberadaan panakawan adalah sebagai kelompok penebar humor di tengah-tengah jalinan cerita. Tingkah laku dan ucapan mereka hampir selalu mengundang tawa penonton. Selain sebagai penghibur dan penasihat, adakalanya mereka juga bertindak sebagai penolong majikan mereka di kala menderita kesulitan. Misalnya, sewaktu Bimasena kewalahan menghadapi Sangkuni dalam perang Baratayuda, Semar muncul memberi tahu titik kelemahan Sangkuni.
Dalam percakapan antara para panakawan tidak jarang bahasa dan istilah yang mereka pergunakan adalah istilah modern yang tidak sesuai dengan zamannya. Namun hal itu seolah sudah menjadi hal yang biasa dan tidak dipermasalahkan. Misalnya, dalam pementasan wayang, tokoh Petruk mengaku memiliki mobil atau handphone, padahal kedua jenis benda tersebut tentu belum ada pada zaman pewayangan.

Sejarah Panakawan

Pementasan wayang hampir selalu dibumbui dengan tingkah laku lucu para panakawan. Pada umumnya kisah yang dipentaskan bersumber dari naskah Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Meskipun demikian, dalam kedua naskah tersebut sama sekali tidak dijumpai adanya tokoh panakawan. Hal ini dikarenakan panakawan merupakan unsur lokal ciptaan pujangga Jawa sendiri.
Menurut sejarawan Slamet Muljana, tokoh panakawan muncul pertama kali dalam karya sastra berjudul Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kadiri. Naskah ini menceritakan tentang bantuan Gatotkaca terhadap sepupunya, yaitu Abimanyu yang berusaha menikahi Ksitisundari, putri Sri Kresna.
Dikisahkan Abimanyu memiliki tiga orang panakawan bernama:
Ketiganya dianggap sebagai panakawan pertama dalam sejarah kesusastraan Jawa. Dalam kisah tersebut peran ketiganya masih belum seberapa, seolah hanya sebagai pengikut biasa.
Panakawan selanjutnya adalah Semar, yang muncul dalam karya sastra berjudul Sudamala dari zaman Kerajaan Majapahit. Dalam naskah ini, Semar lebih banyak berperan aktif daripada ketiga panakawan di atas. Pada zaman selanjutnya, untuk menjaga keterkaitan antara kedua golongan panakawan tersebut, para dalang dalam pementasan wayang seringkali menyebut Jurudyah Puntaprasanta sebagai salah satu nama sebutan lain untuk Semar.

Gara-Gara

Para dalang dalam setiap bagian pertengahan pementasan wayang, hampir selalu mengisahkan adanya peristiwa gara-gara (baca: goro-goro seperti melafalkan 'gorong-gorong'; dari bahasa Jawa) yaitu sebuah keadaan saat terjadi bencana besar menimpa bumi. Antara lain gunung meletus, banjir, gempa bumi, bahkan sampai korupsi yang merajalela. Panjang-pendek serta keindahan tata bahasa yang diucapkan untuk melukiskan keadaan gara-gara tidak ada standar baku, karena semuanya kembali pada kreativitas dalang masing-masing.
Para dalang kemudian mengisahkan bahwa setelah gara-gara berakhir, para panakawan muncul dengan ekspresi bahagia, menebar humor, dan bersenda gurau. Hal ini merupakan simbol bahwa setelah munculnya peristiwa kekacauan atau kerusuhan yang menimpa suatu negara, maka diharapkan rakyat kecil adalah pihak pertama yang mendapatkan keuntungan, bukan sebaliknya.
Akibat kesalahpahaman, istilah gara-gara saat ini dianggap sebagai saat kemunculan para panakawan. Gara-gara dianggap sebagai waktu untuk dalang menghentikan sementara kisah yang sedang dipentaskan, dan menggantinya dengan sajian musik dan hiburan bagi para penonton.

Daftar Nama para Panakawan

Dalam pementasan wayang, baik itu gaya Yogyakarta, Surakarta, Sunda, ataupun Jawa Timuran, tokoh Semar dapat dipastikan selalu ada, meskipun dengan pasangan yang berbeda-beda.
Pewayangan gaya Jawa Tengah menampilkan empat orang panakawan golongan kesatria, yaitu Semar dengan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Selain itu terdapat pula panakawan golongan raksasa, yaitu Togog dan Bilung.
Pada zaman pemerintahan Amangkurat I raja Kesultanan Mataram tahun 1645-1677, seni pewayangan sempat terpecah menjadi dua, yaitu golongan yang pro-Belanda, dan golongan yang anti-Belanda. Golongan pertama menghapus tokoh Bagong karena tidak disukai Belanda, sedangkan golongan kedua mempertahankannya.
Dalam pementasan wayang golek gaya Sunda, ketiga anak Semar memiliki urutan yang lain dengan di Jawa Tengah. Para panakawan versi Sunda bernama Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu pewayangan gaya Jawa Timuran menyebut pasangan Semar hanya Bagong saja, serta anak Bagong yang bernama Besut.
Dalam pewayangan Bali, tokoh panakawan untuk golongan kesatria bernama Tualen dan Merdah, sedangkan pengikut golongan jahat bernama Delem dan Sangut.
Dalam pementasan ketoprak juga dikenal adanya panakawan, namun nama-nama mereka tidak pasti, tergantung penulis naskah masing-masing. Meskipun demikian terdapat dua pasang panakawan yang namanya sudah ditentukan untuk dua golongan tertentu pula. Mereka adalah Bancak dan Doyok untuk kisah-kisah Panji, serta Sabdapalon dan Nayagenggong untuk kisah-kisah Damarwulan dan Brawijaya. Bawor adalah wayang kulit Banyumasan atau punakawan Banyumas: kisah kisah bawor dadi ratu.

Kamis, 06 September 2012

Kajian Filosofi Budaya Jawa - MAKNA TEMBANG GUNDUL PACUL

MI Nurul Hidayah Posted

 MAKNA TEMBANG GUNDUL PACUL
Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…
Ternyata lagu gundul-gundul pacul mempunyai filosofi yang cukup mendalam, Lagu Gundul Gundul Pacul ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.
‘Gundul’ adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. jadi ‘gundul’ adalah kehormatan tanpa mahkota.
‘Pacul’ adalah cangkul (red, jawa) yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. jadi pacul adalah lambang kawula rendah, kebanyakan petani.
‘Gundul pacul’ artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul utk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya/orang banyak.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah ‘Papat Kang Ucul’ (4 yg lepas). Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya, dengan makna sbb:
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. ‘Gembelengan’ artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Arti harafiahnya jika orang yg kepalanya sudah kehilangan 4 indera itu mengakibatkan hal-hal sbb:
1. GEMBELENGAN (congkak/sombong).
2. NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL (menjunjung amanah rakyat/orang banyak).
3. GEMBELENGAN ( sombong hati).
4. WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan).
5. SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak)

Selasa, 04 September 2012

Kajian Filosofi Budaya -ilirJawa _ Makna Tembang Lir

MI Nurul Hidayah Posted


Tembang Sunan Kalijaga lir ilir


Lir ilir Lir ilir / Tandure wus sumilir / Tak ijo royo-royo / Tak sengguh temanten anyar
Cah angon cah angon / Penekno blimbing kuwi / Lunyu-lunyu penekno / Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira / Kumitir bedahing pinggir / Dondomana jlumatana / Kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane / Mumpung jembar kalangane / Ya surak’o surak hiyo

Lir ilir Lir ilir / Tandure wus sumilir / Tak ijo royo-royo / Tak sengguh temanten anyar : Lir Ilir Lir Ilir / Tanaman di sawah sudah tumbuh merekah/ Tampak kehijauan / Seperti pengantin baru : Sebuah gambaran yang membuat hati setiap orang merasa tenang dan bahagia. Dalam bait ini, seolah kita ini digambarkan sedang tiduran di bawah pohon teduh pinggir hamparan sawah yang tumbuh subur menghijau, berasa semilir angin yang mengoyang dedaunan padi dan suara gemericik air mengalir. Lalu perlahan, semilir angin membangunkan kita. Saat itulah…mata kita memandang goyangan dedaunan padi selayaknya iringan pengantin. Luapan emosi yang penuh suka cita, menyemburat sanubari. Berbahagialah…karena kita berada di atas bumi yang subur dan menghijau.
Cah angon cah angon / Penekno blimbing kuwi / Lunyu-lunyu penekno / Kanggo mbasuh dodotira : Bocah penggembala bocah penggembala / Panjatlah pohon belimbing itu / Walau licin, teruslah naik / Untuk membersihkan pakaianmu : Kita semua adalah cah angon, bocah penggembala. Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan begitu asyiknya tiduran di pinggiran sawah, ada tugas mulia yang tetap harus kita jaga dan jalankan. Jadilah cah angon…bocah penggembala, yang telah ditugaskan ibu kita untuk menggembala kambing, atau kerbau, atau bebek enthok. Watak cah angon adalah berpikir bagaimana memberi makan pihak lain dengan limpahan kasih sayang, dan bukan mencari makan untuk dirinya sendiri. Semangat jadi cah angon…membawa pada amanah untuk menjadi pemimpin yang siap mengayomi, melindungi, dan membuat rakyatnya hidup tenteram bahagia.
Lalu, di sela-sela tugasnya angon itu…diperintahkan untuk memanjat sebuah pohon belimbing yang terkenal sangat licin, apalagi kalau sehabis hujan sangat sulit untuk bisa dipanjat. Di atas pohon itu, petiklah buah belimbing. Di tengah kesibukan kita mengurusi hal duniawi yang melelahkan, teruslah untuk belajar menuntut ilmu. Ilmu tidak sekedar dihafal tapi dijalani, disebut ngaji dan ngelmu. Belimbing dengan sirip lima  adalah perlambang bahwa ada 5 pilar ilmu yang harus terus kita dalami dan jalani yang disebut rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Melalui rukun Islam ini…jiwa kita akan menjadi bersih.
Dodotira dodotira / Kumitir bedahing pinggir / Dondomana jlumatana / Kanggo seba mengko sore : Pakaianmu pakaianmu / Terkoyak di sisi pinggirnya / Jahitlah tamballah / Guna menghadap nanti sore : Jika memang benar…ini zaman dimana jiwa-jiwa kita telah terkoyak. Kita yang terlalu semangat untuk jadi cah angon, hingga lupa untuk memanjat pohon belimbing. Lupa, untuk terus ngaji…ngelmu…mendalami dan menjalani 5 pilar ilmu. Kita yang suka sekali mengarahkan, menyuruh, berusaha meluruskan pihak lain…tetapi kita telah lupa bagaimana merawat hati, memperkuat jiwa kita. Kita telah digelapkan oleh ego kita sendiri, lupa dengan siapa kita, mungkin kita ada salah. Kita yang lebih suka melihat ke luar, kepada  kesalahan-kesalahan pihak lain, kepada segala sesuatu yang saban hari menyesaki panca indera kita.
Prasangka, selentingan berita, atau bisikan-bisikan miring…telah mengunci mata batin kita untuk menatap di kedalaman diri. Lalu, kapankah kita memberanikan untuk membaca diri, melihat, dan mencari dimanakah bagian jiwa kita ini yang terkoyak? Kapankah kita bersiap untuk mengucap “astaghfirullah, maafkan salah dan khilaf kami ya Allah..” Karena tak berapa lama sore akan menjelang. Hidup tidaklah lama lagi…kita semua sedang menuju senja kehidupan. Dan ketika sore menjelang, sanggupkah kita untuk menatap wajah-Nya?
Mumpung padang rembulane / Mumpung jembar kalangane / Ya surak’o surak hiyo : Selagi masih terang rembulan / Selagi waktu masih terluang / Bergegaslah

Senin, 03 September 2012

Kajian Filosofi Jawa - Makna Tembang Sluku-sluku Banthok

MI Nurul Hidayah Posted

 Makna Tembang Sluku-sluku Banthok

Tembang dolanan gubahan para wali, sluku-sluku bathok beserta maknanya :
1. Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah Berjalan jalankan batinmu, batinmu kepada Tuhan. Ada juga yang memaknai Ghuslu-ghuslu batnaka, bathnaka ila Allah Mandi sucikan jiwamu menuju kepada Allah dari segala kesibukan hati selain mengingat-Nya, dari segala penyakit hati yang meranggaskan setiap kebaikan manusia.
2. Si Rama menyang Solo
Sharimi Yasluka artinya Petik dan ambillah satu jalan, dalam versi lain berasal dari kata Siru ma’a man sholla, Berjalan bersama orang-orang yang menegakkan sholat yaitu orang yang tidak bosan-bosan berjuang di jalan Allah.
3. Oleh-olehe payung mutha
Laailaha illaallah hayun wal mauta maknanya kurang lebih demikian Esakan Allah dari hidup sampai mati. Ajakan untuk bertauhid dan berpegang teguh kepada agama Allah sampai akhir hayat. Istiqomah dengan kalimat Lailaha illaAllah
4. Mak jenthit lolobah
Mandzalik muqarabah, Siapa yang mendekat bertaqarrublah tanpa henti. Selalu mendekat kepada Allah dalam segala keadaan. Sabar saat diuji, syukur saat diberi nikmat.
5. Wong mati ora obah
Hayun wal mauta innalillah, Sungguh hidup dan mati hanyalah milik Allah. Dalam versi lain berasal dari kata Man mata ra’a dzunubah, orang nang mati akan melihat dosanya. Oleh karena itu siapkanlah kematianmu dengan terus berbuat baik kepada sesama dengan penuh cinta dan Taqwa kepada Allah SWT.
6. Yen obah medeni bocah
Mahabbatan mahrajuhu taubah, Maka, bercintalah dengan kecintaan menuju taubat. Selagi masih diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia ini. Jangan pernah putus asa dalam menggapai rahmat dan maghfirah-Nya.
 7. Yen urip goleka dhuwit
Yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq, Ingatlah sungguh manusia diciptakan dari air yang memancar. Maksudnya, manusia diciptakan dari ketiadaan dan kehinaan. Oleh karena itu untuk memperoleh kemulyaan harus dengan berjalan di jalan Allah.