" Ingatlah bahwa setiap hari dalam sejarah kehidupan kita ditulis dengan tinta yang tak dapat terhapus lagi " (Thomas Carlyle)

Minggu, 05 Agustus 2012

Kajian Ramadhan - Tingkatan Puasa

MI Nurul Hidayah Posted

Tingkatkan Puasa

Sahabat, seperti sekolah, dalam puasa pun ternyata ada tingkatannya, loh. Pertama, puasa orang-orang awam; kedua, puasa orang-orang khusus; dan ketiga, puasa orang-orang yang paling khusus dari yang khusus. Apa bedanya?
Puasa orang-orang awam adalah puasa hanya untuk meninggalkan makan, minum, nafsu biologis, dan meninggalkan segala yang membatalkan puasa secara lahiriah. Puasa seperti ini belum bisa menaikkan kemampuan batin dan mental-spiritualnya ke tingkat lebih tinggi. Mereka belum menahan nafsu, lisan, tangan, dan anggota badannya dari hal tercela. “Ada lima hal yang menghilangkan pahala puasa, yaitu: berbohong, bergunjing, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat,” (H.R. al-Azdy).
Puasa orang-orang khusus adalah puasa di atas puasa orang awam, karena sudah puasa menahan hawa nafsu, pendengaran, penglihatan, lisan, dan semua anggota badan dari perbuatan tidak terpuji.
Sedangkan puasa orang-orang paling khusus, hati mereka sudah berpuasa dari niat dan kecenderungan yang rendah, melepaskan diri dari memikirkan kemewahan dunawi, serta total memalingkan diri dari segala sesuatu selain Allãh SWT. Puasa di tingkatan ini, sesaat berpikir kepada sesuatu selain Allãh dan hari akhir saja, telah dianggap rusak. Apalagi memikirkan indah dan kenikmatan dunia, kecuali untuk kepentingan agama dan bekal akhirat. Mereka inilah yang melaksanakan ayat “dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allãh untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,” (QS al-Baqarah [2]: 187).
Bagi orang yang puasa khowasul kwowas, yang telah sampai pada penyerahan nuraninya (arbab al-Qulub): “Tergerak keinginan (himmah)-nya untuk mengerjakan sesuatu di siang hari, saat berpuasa, untuk disantap saat berbuka saja, tindakan seperti itu sudah dicatat sebagai dosa”. Karena, sikap seperti itu merupakan kurangnya kepercayaan terhadap Allãh yang menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Puasa ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur dan tulus), dan Muqarabbin (orang-orang yang dekat dengan Allãh).
Agar sampai pada tingkatan puasa khowas ini, kita harus: (1) menjaga dan menundukkan pandangan mata sehingga tidak melihat sesuatu yang tercela atau yang mengganggu kebersihan hati sehingga membuatnya lalai kepada Allãh. (2) menjaga lisan dari perkataaan yang sia-sia, menghindari dusta, bergunjing, memfitnah, menyaci maki, menyinggung perasaan orang lain, mengobarkan permusuhan, berdebat yang berlarut-larut. (3) menjaga pendengaran dari segala yang tidak sesuai menurut agama, karena segala sesuatu yang haram diucapkan juga haram untuk didengar. “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan memakan harta yang haram,” (QS. al-Maidah [6] : 42).
Lalu, (4) menyegah anggota badan dari perbuatan haram. Menjaga perut dari makanan tidak halal, tidak makan berlebihan meskipun halal, dan melakukan aktivitas lain yang mengarah kepada ridha Allãh. (5) menyederhanakan diri dan tidak berlebihan ketika berbuka, sebab tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan mematahkan hawa nafsu, agar jiwa menjadi kuat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Demikianlah beberapa cara untuk menjalani puasa khowas yang bisa mengantarkan kita kepada kebaikan dan keutamaan, meskipun belum mencapai tingkatan puasa yang paling khusus. “Sekilas pandangan mata merupakan anak panah berbisa dari anak-anak panah iblis yang terkutuk. Siapa yang menahan dirinya dari hal seperti itu karena rasa takut kepada Allãh, Allãh akan memantapkan iman dan merasakan kelezatan imannya dalam hatinya”. (H.R. al-Hakim

klik disini untuk lihat sumbernya


0 komentar :

Poskan Komentar